Rabu, 13 Mei 2020, Pukul 15.30 WIB, WALHI Sumatera Utara melakukan pertemuan koordinasi dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BB-TNGL). Pertemuan dihadiri oleh Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara Dana Prima Tarigan didampingi staf. Sementara dari Balai Besar TNGL dihadiri oleh Kepala Balai, Kepala Bidang Teknis, Staf Kerja Sama, Staf GIS dan Staf Notulen. Selain itu hadir pula beberapa pengurus dari lembaga partisipan WALHI Sumatera Utara yaitu PUSAKA Indonesia, PARAS, dan ELSAKA Sumatera Utara. Pertemuan ini merupakan pertemuan lanjutan yang membahas implementasi program SGP/ACB di mana WALHI Sumatera Utara sebagai mitra Balai Besar TNGL.

Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar TNGL mempersilahkan seluruh peserta yang hadir untuk memperkenalkan diri dan asal lembaga. Kepala Balai Besar kemudian memfasilitasi jalannya diskusi. Dana Prima Tarigan menyampaikan bahwa kehadirannya adalah untuk berkoordinasi terkait implementasi program yang sedang berjalan. “Setelah WALHI Sumatera Utara mendapatkan Hibah dari SGP/ACB ini merupakan pertemuan pertama kita secara tatap muka, maka dalam kesempatan ini kami akan memaparkan secara umum proyek yang akan kita laksanakan selama setahun ke depan. Secara lebih rinci akan dipaparkan oleh Doni”. Terima kasih.

Setelah Doni melakukan pemaran, ada beberapa masukan dari pihak Balai Besar TNGL, di antaranya dari Kelapa Balai yang menyampaikan kondisi terkini lokasi Barak Induk. “Kondisi saat ini di Barak Induk sudah ada masuk program dari PLN untuk memasang listrik. Itu menjadi tantangan sendiri untuk kita yang ingin melakukan program Kemitraan Konservasi karena ada angina berhembus tentang pemukiman permanen. Tetapi pesan Direktur Jendral KSDAE kepada kami  Balai Besar, agar segera menyerahkan dokumen masyarakat dan meminta komitmen dari mereka untuk mendukung program-program konservasi dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.”

Ujang dari Balai Besar TNGL menambahkan bahwa jika memungkinkan dalam pelaksanaan program ini, tahapan penyelesaian konflik yang akan dicapai itu berangkat dari keinginan bersama tidak hanya keinginan satu pihak saja. “Staf WALHI Sumatera Utara juga harus live-in di lapangan dan menentukan aktor-aktor lokal seperti Pak Darmo dan Pak Yatno”.

Menurut Ujang, Barak Induk merupakan area yang sangat ekslusif. Pemerintah sudah sejak dulu mencoba masuk untuk bermitra tetapi sampai sekarang belum pernah ada penyelesaian yang terjadi. Terkait koordinasi lapangan, menurut Ujang WALHI Sumatera Utara akan mendapat surat izin dari Balai Besar TNGL untuk memudahkan akses masuk dan keluar rekan-rekan yang bekerja dari WALHI Sumatera Utara, dengan tetap melakukan koordinasi dengan petugas TNGL di Lapangan.

Sebelum pertemuan ditutup, Kepala Balai menyampaikan bahwa ada peluang untuk siklus 2 program SGP/ACB ini yang bisa dicoba oleh rekan-rekan mitra dan yang akan bermitra. “Pada intinya siklus 2 ini akan fokus kepada matapencaharian masyarakat dan pengarusutamaan gender. Tambah Kepala Balai.