Perdagangan satwa liar ilegal merupakan ancaman yang terus meningkat, tidak hanya bagi tanaman dan hewan tetapi juga bagi manusia, termasuk lingkungan, ekonomi dan kesehatan masyarakat. Kasus Pangolin Sunda, hewan yang hanya sedikit orang dengar tentangnya, adalah contoh sempurna. Ada perhatian yang tumbuh pada konservasi hewan rahasianya, yang – didorong oleh perdagangan satwa liar – ditengarai telah memainkan peran kunci dalam pandemi COVID-19. Perdagangan satwa liar ilegal mempengaruhi kita semua.

Para ilmuwan yakin bahwa pandemi COVID-19 dimulai sebagai transmisi dari kelelawar liar yang diperdagangkan secara ilegal untuk mendapatkan dagingnya di Cina. Kelelawar telah lama dikenal karena membawa berbagai virus, beberapa diantaranya dapat menginfeksi manusia, termasuk SARS, Rabies, dan Ebola (Cantlay, dkk, 2017). Dalam kasus COVID-19, kelelawar di pasar mungkin telah secara langsung menginfeksi manusia atau mereka mungkin telah menyebabkan infeksi melalui spesies perantara – kemungkinan besar trenggiling.

Banyak orang tidak akrab dengan trenggiling karena kita sangat tidak mungkin melihat mereka. Mereka adalah hewan kecil bersisik malam yang tertutup bersembunyi di liang dibawah tanah pada siang hari. Trenggiling merupakan hewan mamalia yang masuk dalam ordo Pholidota dan famili Manidea dengan subfamili Maninae (7genus). Adapun diantaranya, genus Manis, Phataginus dan Smutsia tersebar di Asia dan Afrika. Sebaran ini mencakup 4 spesies Manis di Asia, 2 spesies Phataginus dan 2 spesies Smutsia di Afrika (Gaudin, Timothy, 2009).

Untuk di Asia Tenggara sendiri, ada empat jenis spesies yang tersebar dimana 2 jenis spesies Manis javanica dan Manis pentadactyla yang masuk dalam kategori „critically endangered‟ oleh IUCN (Pires dan Moreto, 2016). Bahkan, spesies ini termasuk dalam 3 satwa liar yang paling umum diperdagangkan secara ilegal selain Badak dan Burung Beo (Pires and Moreto ,2016) dan salah satu mamalia yang paling banyak diburu di dunia (Sutter, 2014 dalam Pires dan Moreto, 2016).

Dalam beberapa kasus, spesies yang terperangkap atau diburu ini banyak diperdagangkan secara ilegal di pasar lokal bahkan global (Pires dan Moreto, 2016) dengan total perkiraan 100.000 hingga 135.000 ekor trenggiling setiap tahunnya. Biasanya sisik trenggiling digunakan untuk pengobatan medis (Hutton dan Web, 2003; Brautigam et. Al. 1994; dalam Pires dan Moreto, 2016) dan obat tradisional Cina yang sudah digunakan bertahun-tahun lamanya (TCM) (Pantel dan Chin, 2009; Shepherd, 2009; Wu et al. 2004 dalam Pires dan Moreto, 2016). Sisik trenggiling ini dipercaya mengandung bahan yang sangat penting yang dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit (Yue, 2009; Acosta-Lagrada, 2008; Phalla 2008; Wang 2008 dalam Pires dan Moreto, 2016). Bahkan dengan tingginya permintaan trenggiling untuk kebutuhan tersebut menjadikan Cina sebagai pasar permintaan yang paling tinggi di dunia (Shibao, Guangzhi dan Qianxiang, 2005 dalam Pires dan Moreto, 2016) dengan rantai pasok yang berasal dari Indonesia dan Malaysia (Semiadi, Darnaedi dan Arief, 2008 dalam Pires dan Moreto, 2016).

Permintaan pasar yang tinggi berbanding terbalik dengan ketersediaan spesies tersebut dihabitatnya dan mendorong kepunahan Trenggiling lebih cepat. Hal ini juga mempengaruhi peningkatan harga Trenggiling dari waktu ke waktu. Berdasarkan studi yang dilakukan di Cina, terungkap bahwa harga Trenggiling 100 kali lipat lebih tinggi diawal tahun 1980an dan 20 kali lipat lebih tinggi di tahun 1990an (Challender et al. 2015a; Shibao et al. 2005 dalam Pires dan Moreto, 2016). Jika kita ketahui, Trenggiling merupakan spesies yang sangat rentan untuk dieksploitasi secara berlebihan karena spesies ini memiliki angka reproduksi yang sangat rendah, tidak dapat berkembang biak dengan mudah didalam kandang (Lim dan Ng, 2007; Shepard, 2009 dalam Pires dan Moreto, 2016) dan sangat mudah untuk diburu (Pires dan Moreto, 2016).

Perdagangan satwa yang dilindungi secara ilegal sudah menjadi perhatian banyak negara termasuk Indonesia dan sudah termaktub didalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Namun, implementasi penegakan hukum bagi pelaku

perdagangan ilegal masih belum maksimal. Perdagangan satwa secara ilegal merupakan tindakan kriminal yang banyak melibatkan pelaku baik dari rantai pasok trenggiling hingga pada pembeli dipasar lokal maupun global. Sebagai bahan diskusi, kami mencoba paparkan gambaran pasar online perdagangan satwa ilegal (Gambar 3). Dari 400 web pages yang dilacak, ada sekitar 4.878 URLs yang berkomentar dan berdiskusi tentang trenggiling. Setelah ditelusuri lebih jauh, sekitar 55,2% membahas tentang khasiat trenggiling sebagai TMC (Traditional Medicine of China)1, 38,7% mengomentari produk yang mengandung trenggiling dan 6,1% membahas tentang penjualan produk trenggiling (Miller, Pay dan Smith, 2019). Tingginya angka komentar tentang trenggiling menunjukan tingginya permintaan pasar akan kebutuhan trenggiling yang notabene menjadi salah satu faktor punahnya spesies tersebut.

Dari beberapa catatan dan penelitian yang dikumpulkan, angka perburuan trenggiling dapat diselaraskan dengan angka penyitaan yang dilakukan oleh penegak hukum terhadap aktivitas perdagangan satwa liar secara ilegal.

 1 Traditional Medicine of China atau Obat Tradisional China

Berdasarkan gambar diatas, ada sekitar 1270 penyitaan trenggiling di 67 negara di dunia yang mencakup 12% bagian tubuh trenggiling, 78,9% trenggiling dan 9,47% sisik trenggiling pada tahun 2010 hingga 2015. Pada umumnya, pembeli memanfaatkan daging trenggiling untuk kebutuhan medis, sisiknya digunakan untuk kebutuhan pengobatan tradisional dan kulitnya digunakan untuk produk pakaian/aksesoris (Heinrich, 2017). Ada rata-rata sekitar 33 negara dan wilayah yang terlibat dalam perdagangan trenggiling setiap tahunnya dan tidak terbatas di negara-negara di Asia dan Afrika. Cina dan USA diidentifikasi sebagai negara tujuan yang paling sering muncul dalam 6 tahun belakangan ini. Bahkan diketahui Cina merupakan negara tujuan utama pengiriman sisik trenggiling terbesar (≥ 1000 kg) dan tubuh trenggiling (≥ 500 trenggiling), sementara USA menjadi negara tujuan utama pengiriman bagian-bagian tubuh trenggiling (≥100 bagian tubuh) (Heinrich, 2017). Terlepas dari hal itu, perdagangan trenggiling paling sering terjadi di negara-negara di Asia, baik itu jumlah penyelundupan maupun jumlah trenggiling yang diperdagangkan. Ada 10 negara yang paling sering terlibat dalam aktivitas perdagangan satwa dilindungi ini yaitu Cina, Vietnam, Malaysia, Hongkong SAR, Thailand, Lao PDR dan Indonesia sementara sisanya USA, Nigeria dan Jerman.

Di Indonesia, ditemukan sebanyak 111 catatan penyitaan trenggiling pada periode tahun 2010 sampai 2015 yang mengindikasikan Indonesia sebagai negara pemasok atau negara penyitaan. Catatan-catatan tersebut meliputi trenggiling hidup maupun mati, sisik, daging dan bagian tubuh. Dari 111 catatan penyitaan, 36,9% merupakan komoditas trenggiling yang masih hidup, 36% individu, 26,1% sisik, 15,3% mati, 7,2% daging dan 0,9% kulit. Dari 111 penyitaan yang tercatat, sebagian besar (83%) ditemukan terjadi di Indonesia (92) sedangkan kasus lainnya, yang meliputi penyitaan di 6 negara lain (Tiongkok, Lao PDR, Malaysia, Filipina, USA dan Viet Nam) melibatkan Indonesia sebagai negara pemasok. Dari 92 penyitaan yang terjadi di Indonesia, sebagain besar ditemukan terjadi di Sumatera (55), diikuti oleh Jawa (26) dan Kalimantan (11) (Heinrich, 2017). Dari 19 penyitaan yang terjadi di luar Indonesia, setidaknya 8 dilaporkan berasal dari Sumatera, sedangkan pada 11 kasus lainnya, pengiriman dinyatakan berasal dari Indonesia, tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai tempat asal secara spesifik.

Penyitaan yang tercatat melibatkan sedikitnya satu trenggiling dan sebanyak-banyaknya 6.307 trenggiling. Terdapat setidaknya 11 kasus dimana penyitaan yang diperkirakan melibatkan lebih dari 1.000 trenggiling utuh dan 7 dari kasus tersebut terjadi di Indonesia yaitu di Sumatera (3 kasus), Jawa (3 kasus) dan Kalimantan (1 kasus). Kasus penyitaan terbesar di Indonesia dalam hal jumlah trenggiling yang disita adalah kasus penyitaan 5,9 ton daging trenggiling dan 790 kg sisik (diperkirakan sebanyak 3.474 trenggiling utuh) di Terminal Petikemas Internasional Belawan di Medan, Sumatera Utara, yang dilaporkan akan dikirim ke Viet Nam (Figure 6) (Heinrich).

Sebagian besar penyitaan yang terjadi di Indonesia (83%) menunjukkan bahwa Sumatera menjadi titik panas/hot spot pada apa yang disebut sebagai jalur perhubungan Daratan Sunda yang menghubungkan Indonesia, Malaysia dan Singapura dengan Medan di Sumatera Utara sebagai tempat pengumpulan utama sebelum diekspor. Sebagian besar penyitaan di Indonesia terjadi di Sumatera (55) diikuti Jawa (26) lalu Kalimantan (11). Namun dari segi perkiraan jumlah trenggiling utuh, Jawa dan Sumatera terlihat sama-sama memiliki keterlibatan dalam perdagangan trenggiling ilegal.

Catatan yang tersisa mencakup penyitaan di 6 negara lain, yaitu Tiongkok (Daratan Tiongkok dan Hong Kong), Lao PDR, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat dan Viet Nam. Tiongkok, Malaysia dan Viet Nam merupakan 3 negara utama yang memiliki keterkaitan terdekat dengan Indonesia berdasarkan jumlah atau frekuensi kasus penyitaan. Baik Tiongkok maupun Viet Nam terlibat sebagai negara tujuan (melibatkan masing-masing sekitar 10.491 ekor trenggiling dan 9.852 ekor trenggiling) sedangkan Malaysia muncul sebagai negara transit paling utama dalam pengiriman trenggiling dari Indonesia ketujuan akhir di Asia Timur. Jumlah penyitaan ini juga dapat dilihat sebagai cerminan dari upaya-upaya penegakan hukum yang efektif di negara-negara tersebut. Hanya ditemukan satu kasus pengiriman yang berasal dari luar Indonesia, yaitu sebuah penyitaan sisik trenggiling dari Kamerun.

Ancaman yang dihadapi sisa trenggiling Indonesia jelas. Semakin banyak orang dan pemerintah menyadari bahwa ini adalah ancaman yang juga dihadapi manusia. Kasus-kasus ini sering dianggap hanya dalam hal jumlah individu hewan yang mereka pengaruhi. Bahkan, dampak dan risiko yang terkait dengan perdagangan ilegal ini jauh lebih besar daripada yang biasanya diakui oleh hukum. Perdagangan trenggiling ilegal mempengaruhi tidak hanya hewan individu tetapi juga seluruh spesies. Pangolin adalah spesies yang terancam punah. Membunuh trenggiling juga mempengaruhi lingkungan yang lebih luas karena mereka memelihara keseimbangan penting, memakan lebih dari 20.000 semut per hari. Dan, tentu saja, berburu dan berdagang trenggiling “memperdekat jarak”tidak wajar dengan manusia. Sehingga menciptakan peluang untuk penularan penyakit yang mempengaruhi semua orang. Kita harus berbuat lebih banyak untuk melindungi alam dan juga mengakui bahwa, bahkan ketika sejumlah kecil hewan terpengaruh, ia dapat memiliki efek yang sangat besar.

Melihat fenomena diatas, menunjukan bahwa perlunya memaksimalkan penegakan hukum dari hilir ke hulu untuk mencegah perburuan hingga perdagangan satwa secara ilegal. Meningkatnya permintaan pasar berbanding terbalik dengan kelestarian trenggiling di habitatnya yang notabene merupakan satwa yang dilindungi. Penerapan strategi yang tepat berdasarkan kajian data yang ada saat ini kiranya dapat meminimalisir kepunahan spesies tersebut. Dan tentunya yang tidak kalah penting adalah meminimalisir penularan penyakit zoonotic dari satwa liar ke manusia.