Sulaiman (27) masih ingat betul saat pertama kali memegang senapan angin. Saat itu dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Dia bersama dengan 2 orang saudara dan 3 temannya berburu burung di kebun kelapa sawit. Hampir setiap sore mereka menenteng senapan angin berkeliling dan berjalan mengendap lalu membidik burung yang bertengger di pelepah sawit.

Dikatakannya, saat itu mereka akan sangat bangga membawa hasil buruan ke rumahnya. Karena itu juga, rumahnya sering dijadikan tempat berkumpul teman-teman sebayanya. Burung-burung itu disembelih, dikuliti dan dibakar untuk disantap dengan sambal kecap, tanpa nasi.

“Masih ingat kali lah. Itu hampir tiap sore kami berburu burung. Burung apa saja, mau sekecil burung gereja, atau sebesar elang. Yang kecil biasanya untuk jadi sasaran latihan menembak, yang besar kami bawa pulang,” katanya, Kamis (1/5/2020).

Dikatakannya, sebenarnya yang mereka cari ke kebun kelapa sawit di sekitar rumahnya di Bulu Cina, Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang bukan hanya burung. Ada hewan buruan yang lebih bernilai ekonomis yang sangat mereka cari, yakni trenggiling (Manis javanica).

Trenggiling, kata dia, adalah hewan yang gampang mereka dapatkan saat itu. Cukup dengan membongkar gundukan tanah atau rerumputan di sekitar kebun ataupun ladang di sekitar rumah, trenggiling akan berlarian kemudian menggulungkan badannya.

“Nangkapnya gampang, kalau mereka lari kan langsung menggulung badannya. Habis itu kita tangkap, lah,” katanya.

Namun demikian, sebelum trenggiling itu menggulungkan badannya sebagai salah satu cara melindungi dirinya, mereka harus mengepung trenggiling agar tidak lari jauh. Pasalnya, trenggiling adalah hewan yang larinya cepat dan pandai bersembunyi. Warna badannya yang menyerupai tanah membuatnya sulit ditemukan apabila sudah bersembunyi.

“Tapi ya itu, dulu kan banyak. Nyarinya itu di kebun sawit atau di pinggir hutan, di dekat pohon-pohon tumbang lah. Karena makanannya kan rayap, semut atau serangga,” katanya.

Menurutnya, mereka berburu trenggiling bukan untuk dimakan. Trenggiling itu mereka tangkap, kemudian dijual ke seorang pengumpul di dekat rumahnya. Selanjutnya, pengumpul tersebut akan menjualnya ke seseorang yang ada di Binjai dan Stabat.

“Kalau nyari dulu itu, tak tentu lah jumlahnya. Kadang 1 kadang lebih,” katanya.

Namun dia tak ingat berapa 1 ekor trenggiling dihargai. Satu hal yang diingatnya adalah, karena berdagang satwa liar itu dia bisa makan mie ayam atau bakso bersama-sama dan uang saku selama sekolah.

“Pertama kali lihat trenggiling takut. Karena larinya kencang sekali. Waktu itu, baru keluar rumah, bawa senapan, tiba-tiba dia keluar dari balik pohon tumbang, hampir ditabraknya,” katanya.

Ternyata, kekagetannya saat itu yang membuatnya penasaran dan memburunya di kemudian hari. Dia mengaku tak terhitung berapa trengiling yang ditangkapnya bersama dengan saudara dan teman-temannya. “Mau yang kecil atau yang besar udah pernah nangkap. Tak cuma di sekitar rumah, kadang nyari sampai ke Langkat atau Aceh. Kalau dapat, dijual lah,” katanya.

Sulaiman adalah salah satu pemburu yang saat ini sudah menyadari bahwa berburu satwa liar bukanlah pekerjaan. Bukan pula hobi yang pantas dijalani. “Sudah tobat lah. Sekarang ini, mana ada lagi trenggiling. Sangat sulit dicari. Beda dengan dulu, ibaratnya, jalan sedikit ke kebun atau hutan pasti dapat,” katanya.

Trenggiling adalah salah satu satwa dilindungi yang paling banyak diburu dan diperdagangkan di pasar gelap internasional. Sumatera Utara catatan buruk dalam perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi juga berkaitan dengan trenggiling. Kasus terbesar yang berhasil diungkap Mabes Polri, Polda Sumut, Interpol AS dan Wildlife Crime Unit-Wildlife Conservation Society (WCU-WCS) pada 27 April 2015 di sebuah gudang di Kawasan Industri Medan (KIM) I, Mabar, tepatnya di Kompleks Pergudangan Niaga Malindo I. Tak tanggung, jumlahnya bahkan mencapai 5 ton.

Rincian temuan dari dalam gudang tersebut, 5 ton trenggiling beku di dalam cold freezer dan 76 kg sisik trenggiling kering, 96 ekor trenggiling masih dalam keadaan hidup. Bahkan, dari cold freezer itu juga ditemukan 26 cakar beruang.

Pada Juli 2012, BBKSDA Sumut berhasil menggagalkan penyelundupan 85 ekor trenggiling di pool bus Antar Lintas Sumatra (ALS). Kemudian, pada Januari 2013, Polisi Perairan Udara Polda Sumut berhasil menggagalkan  penyelundupan 102 ekor trenggiling di perairan Batubara pada

Pada Maret 2013, BBKSDA Sumut kembali mengamankan 22 ekor trenggiling (2 mati) di stasiun Bus Batang Pane Baru, Jalan Sisingamangaraja, Simpang Marendal. Dengan demikian, jumlah 5 ton merupakan yang terbesar di Sumatra Utara.

Pada Juni 2017, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah I Sumatera memusnahkan 103 ekor trenggiling mati hasil sitaan tim gabungan Western Fleet Quick Respone (WFQR) Lantamal I dan Tim Libas Dispamal (Dinas Pengamanan TNI Angkatan Laut) Mabesal, yang siap diseludupkan ke Malaysia dari kawasan Pergudangan 77 Titi Papan, Jalan Yos Sudarso, Medan Belawan.

Dari 103 ekor trenggiling tersebut, 80 ekor di antaranya masih bersisik, 23 ekor tanpa sisik. Saat penggrebekan juga ditemukan 29 kg sisik kering dan 15 kg sisik basah.

Tentu saja trenggiling juga diburu di daerah lain di Indonesia, misalnya di Palembang, Sumatra Selatan sebanyak 13,8 ton, di tahun 2008. Setahun kemudian, 9 ton trenggiling digagalkan di Jakarta. Kemudian di tahun 2010, di Vietnam, pernah ditemukan trenggiling sebanyak 10 ton yang asalnya dari Indonesia, pengiriman dari Jakarta.

Di balik cerita perburuan dan perdagangan trenggiling dan turunannya, belakangan tersiar kabar bahwa hewan pemakan rayap tersebut dikaitkan dengan merebaknya virus Corona atau Covid-19. Hewan ini, laris di pasar gelap hewan untuk dijadikan konsumsi maupun obat-obatan.

Meski demikian, hingga kini ilmuwan belum bisa memastikan keterkaitan kuat trenggiling dengan meerebaknya virus Corona. Selain trenggiling, hewan lainnya yang ‘dituduh’ sebagai penyebar Corona adalah kelelawar.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Utara, Dana Prima Tarigan mengatakan, dari paparan data dan perkembangan saat ini, menunjukkan bahwa ada persoalan kerakusan luar biasa dari manusia yang menjadikan hewan yang keberadaannya di habitat sangat penting dalam ekosistem. Sebaliknya, ketiadaan satwa itu di habitatnya akan berdampak pada ketidak seimbangan ekosistem.

Hasil penelitian gabungan dari School of Veterinary Studies, The Rosline Institute dari University of Edinburgh serta School of Life Science University of Sussex baru-baru ini mengidentifikasi terdapat  51 penyakit zoonotic dari peredaran daging satwa liar di Malaysia saja. Jenis penyebab penyakit yang ditemukan terdiri dari 16 virus, 19 bakteri, dan 16 parasit.

Pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung ditengarai berasal dari 2 species satwa liar, seperti kelelawar dan trenggiling. Virus yang persebarannya ditemukan di Wuhan, China, juga teridentifikasi terdapat pada trenggiling Malayan yang diselundupkan ke China. Sangat ironis, ketika perdagangan trenggiling ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pengobatan tradisional, ujung-ujungnya menjadi boomerang pembawa penyakit secara global.

Jika hasil penelitian ini benar adanya, maka pembiaran atas perdagangan ilegal trenggiling oleh pemerintah selama ini merupakan malapetaka yang membantu penyebaran virus corona antar negara. Ini menjadi pelajaran berharga agar tetap membiarkan trenggeling hidup liar dan melindunginya nya dari perburuan sekaligus melindungi habitatnya dari kerusakan untuk menjamin keberlangsungan hewan bersisik tersebut.